Perbedaan Jalur Jonatan Christie dan Rinov/Pitha di Kejuaraan Dunia 2025
-Dua wakil Indonesia, Jonatan Christie dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, berhasil meraih hasil yang menggembirakan dalam memulai perjuangan mereka di Kejuaraan Dunia 2025. Keduanya sama-sama memenangkan pertandingan, meskipun dengan cara yang berbeda.
Rinov/Pitha yang memulai perjuangan tim Indonesia pada Selasa (26/8), harus berjuang keras. Mereka menghadapi perlawanan yang signifikan dari pasangan Taiwan, Lu Ming Che/Hung En Tzu di babak pertama atau 64 besar.
Pasangan juara dunia junior 2017 itu sempat kalah dalam gim pertama. Namun, Rinov/Pitha mampu bangkit dan memenangkan dua gim berikutnya dengan skor akhir 14-21, 21-15, 21-15.
“Pada skor 0-0, saya melakukan servis pendek yang mengalami kesalahan cukup membingungkan karena servis pendek tersebut dan tadi ada beberapa pukulan dari Hung yang tidak biasa dilakukan dan saya kurang siap di awal-awal,” ujar Pitha mengenai kehilangan gim pertama.
“Dengan postur tinggi dan menggunakan tangan kiri, pukulan Hung memang memiliki tantangan tersendiri. Semoga nantinya kami dapat bermain lebih rapi dan layanan kami jangan sampai terkena pelanggaran lagi,” tambahnya.
Sementara Rinov mengatakan bahwa sejak awal ia dan Pitha sebenarnya bermain secara alami. Ia tidak ingin memikirkan hal apa pun, meskipun sebenarnya tekanan dirasakan olehnya.
“Hari ini lawan bermain cukup baik dan serangan-serangannya juga cukup mengganggu, tetapi kami berusaha untuk bermain lebih tenang terutama saat poin-poin penting kami beberapa kali terkena kesalahan,” kata Rinov.
Tindakan positif Rinov/Pitha diikuti oleh Jonatan Christie. Atlet bulu tangkis tunggal putra tersebut juga berhasil meraih kemenangan dalam babak 64 besar Kejuaraan Dunia 2025.
Perbedaannya, pemain non Pelatnas PBSI menang dengan lebih meyakinkan dan terlihat lebih mudah. Jonatan berhasil mengalahkan Matthias Kicklitz dari Jerman dalam dua gim langsung, 21-15, 21-5.
Meski menang dengan mudah, Jonatan yang menjadi unggulan kelima menyatakan bahwa kendala masih muncul selama pertandingan. Akibatnya, dia sedikit mengalami kesulitan di gim pertama.
“Hari ini berbeda dari latihan sebelumnya, terutama dalam hal shuttlecock. Saat latihan biasanya sangat berat, tetapi hari ini cukup lancar, sehingga saya masih mencoba mencari pola pukulan, baik dari lob maupun angkat depan, karena masih mencari rasa pukulan di awal pertandingan tadi,” ujar Jojo, panggilan akrabnya.
Selanjutnya Jojo menyadari babak-babak berikutnya dalam Kejuaraan Dunia 2025 akan lebih sulit. Faktor-faktor non teknis menurutnya menjadi hal yang perlu lebih diperhatikan.
“Ke depannya saya perlu memperhatikan aspek non teknis karena lawan akan semakin sulit dan harus bermain secara bertahap agar bisa masuk ke lapangan, belajar dari Olimpiade tahun lalu,” katanya.
“Kondisi lapangan juga berbeda dibanding Olimpiade, di Olimpiade sangat terang hingga terlihat penonton yang berada di atas, sedangkan sekarang tempat duduk penonton gelap seperti pertandingan BWF lainnya,” tutup Jonatan.
