Mengapa Pelatih Asing Mendominasi BRI Super League 2025-2026
DOMINASI pelatih asing mewarnai BRI Super League2025-2026. Pengamat sepak bola Indonesia, Kesit Budi Handoyo, menyatakan bahwa dominasi pelatih asing bukan disebabkan oleh krisis pelatih lokal di negara ini. “Sebenarnya kita tidak kekurangan pelatih lokal,” ujarnya kepadaTempo saat dihubungi pada hari Kamis, 7 Agustus 2025.
Menurutnya, setiap klub memiliki alasan untuk tidak tertarik pada pelatih lokal. Pertama, belum banyak pelatih lokal di dalam negeri yang mampu membawa klubnya menjadi juara Liga Indonesia. Indikator ini menunjukkan bahwa pelatih asal Indonesia masih kesulitan bersaing dengan pelatih asing. Kedua, aturan kompetisi yang mengatur jumlah pemain asing lebih besar. “Banyaknya kuota pemain asing membuat sejumlah klub lebih memilih pelatih asing,” ujar Kesit.
Sebanyak 18 klub akan berlaga dalam BRI Super League 2025-2026. Klub-klub tersebut yaitu Persib Bandung, Dewa United, Malut United, Persebaya Surabaya, Borneo FC, PSM Makassar, Persija Jakarta, Bali United, PSBS Biak, Arema FC, Persita Tangerang, Persik Kediri, Semen Padang, Persis Solo, Madura United, PSIM Yogyakarta, Bhayangkara FC, dan Persijap Jepara.
Dari 18 klub, hanya satu tim yang dilatih oleh pelatih lokal, yaitu Malut United dengan kehadiran Hendri Satrio. Pelatih asal Belanda mendominasi, termasuk Johnny Jansen (Bali United) dan Jan Olde Riekerink (Dewa United). Tiga pelatih asal Brasil, seperti Mauricio Souza (Persija Jakarta) dan Marquinhos Santos (Arema FC), akan bersaing. Selain itu, terdapat tiga pelatih asal Portugal, antara lain Bernardo Tavares (PSM Makassar), Mario Lemos (Persijap Jepara), dan Eduardo Almeida (Semen Padang).
Kesit mendorong Perkumpulan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI dan I.League, operator liga, untuk melakukan peremajaan serta peningkatan kualitas pelatih lokal agar dapat bersaing dengan pelatih asing di tingkat Super League. “Tindakan paling nyata adalah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada pelatih lokal memimpin klub-klub di Liga,” ujar Kesit yang juga mendorong pelatih lokal untuk meningkatkan kemampuan dan mencari peluang karier di luar negeri.
Berkelindan dengan Pemain Asing
Pemilihan pelatih asing oleh klub-klub yang berlaga di Super League tidak terlepas dari perluasan kuota pemain asing dalam satu musim kompetisi. Kesesuaian gaya bermain, pengetahuan sepak bola, serta kemampuan komunikasi sering kali menjadi pertimbangan utama. Namun, menurut Kesit, aturan kuota tersebut justru menyebabkan ruang bagi atlet lokal menjadi lebih terbatas. “Banyaknya pemain asing belum tentu mampu memperkaya gaya bermain. Yang jelas, jumlah pemain asing yang banyak membuat peluang pemain lokal semakin sempit,” kata Kesit.
I. League, yang sebelumnya dikenal sebagai PT Liga Indonesia Baru, mengeluarkan aturan baru Super League 2025-2026. Isi dari aturan tersebut memperbolehkan setiap klub mendaftarkan 11 pemain asing dan memungkinkan klub menggunakan delapan pemain asing dalam satu pertandingan. Muncul gelombang protes, salah satunya datang dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
I. Liga menggunakan formula 11-9-7. Artinya, setiap klub diperbolehkan mendaftarkan 11 pemain asing, tetapi hanya boleh memasukkan sembilan pemain ke dalam daftar susunan pemain dan hanya boleh menggunakannya maksimal tujuh pemain. Kesit menyatakan, jumlah pemain asing akan mengurangi kesempatan pemain lokal untuk tampil di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. “Baik suka maupun tidak, situasi ini akan berdampak pada pembinaan pemain lokal sebagai calon pemain tim nasional,” katanya.
